Kita sering merasa sudah memahami sesuatu, padahal yang kita lihat baru satu sisi.
Satu kejadian. Satu kalimat. Satu ekspresi wajah. Satu perasaan yang muncul tiba-tiba.
Lalu pikiran kita cepat sekali membuat cerita.
- “Dia pasti sengaja.”
- “Aku memang tidak dihargai.”
- “Kalau aku merasa begini, berarti aku benar.”
- “Orang seperti itu memang selalu begitu.”
Kadang cerita itu terasa sangat meyakinkan. Bukan karena ia pasti benar, tetapi karena kita sedang sangat terikat pada pikiran, emosi, keyakinan, pengalaman lama, atau prasangka yang sudah lebih dulu ada.
How poor, kalau hidup yang begitu luas hanya kita lihat dari satu jendela kecil.
Di sinilah Understanding menjadi bagian penting dalam MUACH.
Understanding bukan berarti selalu membenarkan semua hal. Bukan berarti kita harus setuju dengan perilaku orang lain. Bukan juga berarti mengabaikan batasan diri.
Understanding adalah kemauan untuk melihat dengan lebih luas sebelum kita terkunci dalam satu kesimpulan.
Kita belajar bertanya:
- “Apa lagi yang mungkin terjadi di sini?”
- “Apakah aku sedang melihat fakta, atau tafsiranku tentang fakta?”
- “Pengalaman lamaku sedang ikut bicara tidak?”
- “Apa yang mungkin dirasakan orang lain?”
- “Apa kebutuhan atau ketakutan yang sedang tersembunyi di balik respons ini?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuka ruang.
Ruang antara reaksi dan respons.
Ruang antara “aku benar, kamu salah” dan “mungkin ada sesuatu yang belum aku lihat.”
Ruang antara menghakimi dan memahami.
Ketika kita terlalu hooked pada pikiran sendiri, dunia menjadi sempit. Kita hanya melihat bukti yang mendukung cerita lama kita. Kita lebih mudah defensif. Lebih cepat tersinggung. Lebih sulit mendengar.
Tapi ketika kita bersedia melihat gambaran yang lebih besar, perspektif kita menjadi lebih kaya.
Kita bisa mulai memahami bahwa manusia sering bertindak dari luka, takut, kebutuhan, kebiasaan, atau keterbatasan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Dan pemahaman seperti ini bisa membuat hati sedikit lebih lapang.
Bukan untuk membiarkan hal yang menyakitkan terus terjadi.
Tapi supaya respons kita lahir dari kejernihan, bukan hanya dari bias dan luka yang sedang mengambil alih kemudi.
Understanding membantu kita menjadi lebih empatik dan compassionate — kepada orang lain, dan juga kepada diri sendiri.
Karena kadang, kita juga salah memahami diri.
Kita menyebut diri malas, padahal mungkin sedang lelah.
Kita menyebut diri lebay, padahal mungkin ada kebutuhan yang lama tidak didengar.
Kita menyebut diri gagal, padahal mungkin sedang belajar menghadapi sesuatu yang memang sulit.
Maka Understanding dimulai dari keberanian kecil untuk tidak buru-buru percaya pada kesimpulan pertama.
Hari ini, saat pikiranmu membuat cerita tentang diri, orang lain, atau hidup, coba berhenti sebentar.
Apakah ada sisi lain yang belum aku lihat?
Mungkin dari sana, hidup tidak langsung menjadi mudah.
Tapi ia bisa menjadi sedikit lebih luas.
