← kembali ke Artikel

Compassion: Energi yang Membuat Kita Tetap Manusiawi

Love is the energy of the universe.

Di mana ada love, di situ ada life.

Mungkin terdengar sederhana, bahkan terlalu sederhana. Tapi semakin kita memperhatikan manusia, semakin terasa bahwa di balik banyak sikap, pilihan, dan reaksi kita, ada sesuatu yang sangat dasar: kita ingin bahagia.

Everybody just wants to be happy.

Everybody just wants to ease the pain.

Kita semua punya sisi baik dan buruk. Ada bagian dari diri yang lembut, tulus, dan ingin mencintai. Ada juga bagian yang defensif, takut, terluka, iri, marah, atau bingung.

Tapi sering kali, bahkan perilaku yang tampak menyebalkan pun lahir dari usaha manusia untuk mengurangi sakit, merasa aman, merasa cukup, atau mencari sedikit kebahagiaan dengan cara yang ia tahu saat itu.

Ini bukan berarti semua perilaku harus dibiarkan.

Compassion bukan berarti tidak punya batasan.

Compassion bukan berarti membenarkan luka yang diberikan orang lain.

Compassion adalah kemampuan untuk melihat manusia secara lebih utuh: bahwa seseorang bisa salah, tapi tetap manusia; bisa menyakiti, tapi mungkin juga sedang membawa sakit; bisa sulit dipahami, tapi tetap punya keinginan dasar untuk tidak menderita.

Dan itu juga berlaku untuk diri kita sendiri.

Kadang kita sangat mudah memberi pengertian pada orang lain, tapi sangat kejam pada diri sendiri.

Kita berkata pada diri:

  • “Kamu lemah.”
  • “Kamu harusnya sudah selesai dari ini.”
  • “Kamu terlalu sensitif.”
  • “Kamu selalu gagal.”

Padahal, bagian diri yang sedang kacau itu mungkin tidak butuh dihukum lagi.

Ia butuh ditemui.

Ia butuh ditanya dengan lembut: “Apa yang sedang sakit?”

Compassion adalah energi yang membuat kita bisa mendekat pada penderitaan tanpa langsung menghakimi.

Kepada orang lain, compassion membantu kita melihat lebih dalam daripada perilaku permukaan.

Kepada diri sendiri, compassion membantu kita berhenti menjadikan luka sebagai alasan untuk membenci diri.

Dalam MUACH, Compassion menjadi jantungnya.

Mindfulness membantu kita sadar.

Understanding membantu kita melihat lebih luas.

Acceptance membantu kita berhenti berperang dengan kenyataan.

Compassion membantu semua itu tetap hangat.

Tanpa compassion, kesadaran bisa menjadi dingin. Pemahaman bisa menjadi analisis saja. Acceptance bisa berubah menjadi pasrah yang kering.

Dengan compassion, kita mengingat bahwa latihan kembali ke diri bukan tentang menjadi sempurna.

Ini tentang menjadi lebih manusiawi.

Kita belajar berkata:

Aku sedang sakit, dan aku tetap layak ditemani.

Orang lain juga manusia, meski aku tetap boleh punya batasan.

Karena pada akhirnya, semua orang sedang mencoba pulang dari sakitnya masing-masing.

Dan mungkin, sedikit compassion adalah cara kita menyalakan kembali kehidupan — di dalam diri, dan di antara kita.

Kalau tulisan ini terasa dekat…

Kamu bisa lanjut pelan-pelan. Pilih satu pintu kecil yang paling sesuai dengan keadaanmu hari ini.